​Sinergi Rumah Redy, Samsung, dan Pemkab Bandung: Hadirkan Pojok Digitalisasi Ketenagakerjaan di Tingkat Kecamatan

Krismanto - 30 Desember 2025

TOP JABAR – Dalam upaya mentransformasi layanan ketenagakerjaan menjadi lebih inklusif dan terintegrasi, Rumah Redy menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Optimalisasi Pojok Digitalisasi Ketenagakerjaan” di wilayah Bandung. Selasa, 30 Desember 2025.

Forum strategis ini mempertemukan regulator, pelaku industri, dan penyedia teknologi (Samsung) untuk merumuskan strategi pemerataan akses informasi pasar kerja melalui infrastruktur fisik yang terdigitalisasi.

Transformasi digital seringkali terhambat oleh kendala kepemilikan perangkat dan akses internet di lapisan masyarakat bawah. Menjawab tantangan tersebut, Rumah Redy melalui FGD ini memperkenalkan konsep Pojok Digitalisasi Ketenagakerjaan.

Layanan ini dirancang sebagai unit layanan karir terstandarisasi yang fleksibel, efisien, dan dapat ditempatkan di ruang publik yang mudah dijangkau oleh masyarakat, baik di pusat kota maupun pelosok daerah.

Kegiatan ini menonjolkan kolaborasi unik antara empat pilar utama, yakni Pemerintah (Kemnaker & Disnaker Kabupaten Bandung) yang menyediakan payung regulasi, tenaga Penyuluh Tenaga Kerja, serta integrasi data antar-kecamatan.

Kemudian Samsung (Device Support Partner), yakni untuk mendukung infrastruktur melalui penyediaan perangkat teknologi (tablet/gadget) dan booth fisik yang ramah pengguna.

Lalu REDY (Platform Partner), yakni menyediakan sistem rekrutmen online yang mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan secara real-time.

Selain itu ada pula Sektor Swasta dan Pendidikan (Forum HRD & BKK), yakni menjamin validitas kebutuhan industri dan kesiapan mental serta skill para lulusan.

Masyarakat tidak perlu lagi merasa terhambat karena tidak memiliki gawai canggih. Cukup datang ke booth yang didukung perangkat Samsung dan jaringan internet, mereka bisa membuat profil digital dan melamar kerja saat itu juga.

Dengan adanya Pojok Digitalisasi, data pelamar yang masuk melalui platform REDY telah terverifikasi, sehingga memudahkan industri dalam menyerap tenaga kerja lokal secara efisien.

Di sisi lain, peran Bursa Kerja Khusus (BKK) dari satuan pendidikan menjadi krusial untuk memastikan para lulusan baru (fresh graduates) mampu memanfaatkan fasilitas digital ini sebagai jembatan menuju dunia kerja.

FGD ini menghasilkan kesimpulan penting mengenai mekanisme “jemput bola”. Kehadiran booth di tingkat kecamatan dengan fasilitas lengkap—mulai dari internet, perangkat, hingga pendampingan oleh penyuluh—diyakini akan menjadi solusi nyata bagi pencari kerja di daerah.

Sebagai tindak lanjut, seluruh pemangku kepentingan berkomitmen untuk mematangkan konsep operasional sebelum peluncuran resmi.

Langkah ini diharapkan tidak hanya menurunkan angka pengangguran, tetapi juga menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang berkelanjutan dan berbasis data di era digital.

Fokus Group Discussion (FGD) yang digelar Redy salah satu platform job marketplace terintegrasi untuk rekrutmen dan pencarian kerja, menjadi langkah strategis dalam menyelaraskan visi digitalisasi ketenagakerjaan antara pemerintah pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota.

Rio Pasaribu, Direktur Utama Redy, menegaskan bahwa digitalisasi adalah kunci agar informasi lowongan kerja dapat merata hingga ke lapisan masyarakat terbawah.

Rio menyoroti peran penting Gerai Bursa Kerja (GBK) Bedas di Kabupaten Bandung sebagai model pionir dalam mendekatkan akses pekerjaan kepada masyarakat.

​Ready berperan sebagai platform yang mengintegrasikan layanan Disnaker Kabupaten Bandung. Melalui kerja sama ini, pencari kerja diberikan kemudahan yang belum pernah ada sebelumnya. Salah satu inovasi yang ditonjolkan adalah fitur Video Profil.

​”Di aplikasi Ready, tenaga kerja bisa mengunggah video profil. Jadi, meski secara latar belakang pendidikan mungkin hanya SMA atau SMK, mereka tetap punya kesempatan bersaing dengan menunjukkan skill atau kemampuan bahasa secara langsung lewat video. Perusahaan bisa melihat potensi nyata mereka melampaui sekadar ijazah formal,” jelas Rio.

​Rio memiliki visi unik terkait operasional GBK. Ia ingin menghapus stigma bahwa mencari kerja harus kaku dan formal sejak tahap awal informasi. Diantaranya, masyarakat diharapkan bisa datang ke gerai hanya dengan memakai sandal atau pakaian santai saat sedang berjalan-jalan.

Kemudian, ​Tahun 2026, Ready berencana menyiapkan baju formal (outer) di gerai yang bisa dipinjam oleh masyarakat untuk keperluan foto profil profesional di aplikasi.

​Peluncuran (launching) GBK dijadwalkan serentak pada 8 Januari 2026 mendatang. Pada tahap pertama, program ini akan hadir di 8 kecamatan dengan dua titik fokus digitalisasi utama dan ​Mall Pelayanan Publik (MPP) Soreang yang dijadikan sebagai gerai bursa kerja digital pusat.

​Ready akan menyiagakan tim teknis di titik-titik tersebut, sementara kecamatan lainnya akan didukung oleh petugas pengantar kerja (PTK).
​Meski Ready kini telah digunakan oleh berbagai kementerian (seperti Kementerian Koperasi) dan wilayah lain seperti Yogyakarta, Rio menegaskan bahwa akar inovasi ini bermula dari Kabupaten Bandung.

​”FGD ini adalah persiapan untuk launching GBK, sekaligus membentuk konklusi mengenai kebutuhan digitalisasi,” tuturnya.

“Harapan kami, tercipta standarisasi nasional yang berawal dari sini, sehingga sistem yang sukses di Kabupaten Bandung bisa diterapkan secara merata di seluruh Indonesia,” pungkasnya.**

Loading

TERKAIT:

POPULER: