Menembus Batas Seragam, Kisah Briptu Rifqi Madhivan dan Gerakan Kemanusiaan “EKSEKUSIGASKEUN”

Krismanto - 28 Juli 2026

TOP JABAR — Nama Briptu Rifqi Madhivan mungkin baru terdengar akrab akhir-akhiir ini di jagat maya. Namun, melalui akun Instagram miliknya, @r.madhivan, ia telah menularkan gelombang kehangatan yang menyentuh hati jutaan netizen.

Rifqi bukanlah polisi biasa yang sekadar menjalankan tugas patroli rutin. Di balik ketegasan seragam Propam yang lazimnya identik dengan penegakan disiplin internal dan pengawasan ketat anggota kepolisian, Rifqi menyimpan sejuta empati.

​Ia hadir di tengah masyarakat lewat sebuah inisiatif sosial inspiratif bernama EKSEKUSIGASKEUN—sebuah gerakan murni yang menjembatani jarak antara aparat kepolisian dan masyarakat kecil melalui aksi cukur rambut gratis, makeover, hingga uluran tangan yang menyentuh.

​Jika hanya dilihat dari videonya, mungkin banyak yang mengira kegiatan yang dilakukan Rifqi sekadar aksi cukur rambut gratis biasa.

Padahal, bagi pria yang bertugas di Propam ini, potong rambut hanyalah sebuah media untuk membuka percakapan, membangun kedekatan, dan menunjukkan bahwa setiap orang berhak diperlakukan dengan hormat.

​Rifqi sering kali bertemu dengan orang-orang yang bekerja keras di jalanan mulai dari pemulung, buruh harian, pedagang kecil, hingga mereka yang setiap hari berjuang demi keluarganya. Di mata Rifqi, mereka adalah sosok luar biasa yang kerap luput dari perhatian.

“Jarang ada yang benar-benar menyapa mereka, mendengarkan cerita mereka, atau sekadar membuat mereka merasa dihargai. Dari pemikiran itulah lahir EKSEKUSIGASKEUN,” ungkap Rifqi melalui pesan singkat. Selasa, 28 Juli 2026.

​Filosofi di balik nama tersebut sangat sederhana namun sarat makna, jangan biarkan niat baik berhenti menjadi niat. Jika seseorang mampu melakukan sesuatu yang bermanfaat hari ini, maka lakukanlah hari ini juga.

​Salah satu alasan mengapa Rifqi menghadirkan konsep makeover dalam aksinya adalah keyakinannya bahwa penampilan memiliki pengaruh besar terhadap rasa percaya diri seseorang.

​Bagi sebagian besar masyarakat umum, potong rambut, memakai pakaian rapi, atau tampil menarik adalah hal yang lumrah. Namun, bagi masyarakat yang berjuang di jalanan, memenuhi kebutuhan perut sehari-hari sudah menjadi prioritas utama. Akibatnya, merawat diri terpaksa dikesampingkan.

​Melalui EKSEKUSIGASKEUN, Rifqi ingin memberikan pengalaman utuh yang membangkitkan kembali harga diri para talentnya, yakni ​memotong rambut mereka secara langsung oleh tangan Rifqi sendiri.

​Melakukan styling dan makeover agar mereka bisa melihat versi terbaik dari diri mereka di cermin. ​Mengajak berbelanja pakaian baru (outfit) yang langsung dikenakan.

​Menikmati makan bersama sambil berbincang santai dan mendengarkan kisah hidup mereka, hingga ​membagikan paket sembako untuk keluarga di rumah serta memberikan sedikit bantuan tunai sebagai bekal.

​”Ketika seseorang kembali percaya pada dirinya sendiri, sering kali di situlah perubahan hidupnya dimulai,” ujar Rifqi.

Ia menambahkan, tujuannya bukan sekadar mengubah penampilan fisik, melainkan mengembalikan martabat dan harapan agar mereka merasa tidak sendirian.

​Seluruh proses pembuatan konten dan interaksi dalam EKSEKUSIGASKEUN berjalan secara organik tanpa rekayasa.

Rifqi dan tim turun langsung ke jalan, menyapa warga, mendengarkan cerita hidup mereka, dan menawarkan bantuan secara sukarela apabila talent bersedia.

​Pendekatan humanis ini membuat setiap episode selalu menghadirkan cerita yang unik dan menyentuh. Kendati demikian, Rifqi tetap menjunjung tinggi privasi dan kenyamanan warga.

Ia tidak pernah memaksa apabila ada warga yang menolak untuk diajak berpartisipasi atau masuk ke dalam kamera.

​”Prinsip saya sederhana, kebaikan tidak boleh lahir dari paksaan. Menghormati pilihan dan menjaga martabat seseorang jauh lebih penting daripada mendapatkan sebuah konten,” tegasnya.

​Sebagai anggota Polri aktif, khususnya di satuan Propam, Rifqi menegaskan bahwa seluruh kegiatan sosial ini sama sekali tidak mengganggu tugas kedinasannya.

Seluruh rangkaian kegiatan maupun proses pembuatan konten selalu dilakukan di luar jam dinas.

​Baginya, aksi sosial ini justru selaras dengan nilai-nilai luhur Tribrata dan Catur Prasetya, yakni melayani, melindungi, mengayomi, serta hadir di tengah masyarakat.

Pengabdian kepada sesama tidak terbatas hanya saat mengenakan seragam dinas, melainkan dapat diwujudkan kapan saja dalam kehidupan sehari-hari.

​”Kepercayaan masyarakat tidak bisa diminta, tetapi harus dibangun melalui kehadiran yang tulus, manfaat yang nyata, dan konsistensi dalam berbuat baik,” tuturnya.

​Pada awal peluncurannya, seluruh kegiatan EKSEKUSIGASKEUN murni didanai dari kantong pribadi Rifqi. Namun, seiring berjalannya waktu, ketulusan gerakan ini mulai menarik perhatian luas.

Banyak sahabat, rekan kerja, pelaku usaha, komunitas, hingga masyarakat umum yang ikut tergerak untuk menitipkan rezeki mereka.

​Kini, gerakan tersebut telah bertransformasi menjadi wadah kolaborasi bagi siapapun yang ingin berbagi kebaikan.

​Di akhir perbincangan, Rifqi menyampaikan pesan yang sarat inspirasi bagi siapapun yang ingin mulai berbuat baik:

​”Tidak harus menunggu kaya, tidak harus menunggu memiliki jabatan, dan tidak harus menunggu waktu yang sempurna,” tuturnya.

“Kalau hari ini kita mampu membuat satu orang tersenyum, lakukanlah. Karena perubahan besar selalu dimulai dari aksi kecil yang dilakukan secara konsisten,” pungkasnya.**

Loading

TERKAIT:

POPULER: