Miris! Sekolah Berasrama SMAT Krida Nusantara Diduga Abaikan Kasus Perundungan dan Kekerasan
Admin - 31 Juli 2025

Breaking News:
Ali Syakieb Pilih Bekerja Senyap: Santuni Warga dan Beri Semangat Anak Panti Asuhan
Bio Farma Salurkan Bantuan Logistik dan Vaksinasi Tetanus untuk Korban Longsor Cisarua
BRI Salurkan Bantuan Lanjutan TJSL Tanggap Darurat Bencana untuk Penyintas Longsor Cisarua
Publik Kaget! Pola Makan Warga Kota Disebut Menteri LH Sebabkan Longsor Bandung Barat
Admin - 31 Juli 2025

TOP JABAR – Kasus dugaan perundungan, perpeloncoan, dan kekerasan dilaporkan terjadi di SMA Terpadu Krida Nusantara (SMAT KN) Bandung, Jawa Barat.
Sejumlah siswa, khususnya peserta didik baru, diduga menjadi korban tindakan tidak menyenangkan oleh senior mereka selama Masa BASIS (pembentukan disiplin dan karakter siswa baru) sejak Juli 2024.
Salah satu orang tua korban berinisial S membenarkan anaknya menjadi korban dan akhirnya memutuskan untuk menarik putranya dari sekolah tersebut.
Ia menyebut banyak korban lain dari siswa kelas 10 yang juga tidak melanjutkan pendidikan di SMAT KN, dengan total sekitar 30 siswa mengundurkan diri.
“Anak saya akhirnya tidak melanjutkan pendidikan di sana (SMAT KN). Gak cuman anak saya, tapi banyak korban lain juga,” katanya. Kamis, 31 Juli 2025.
Modus kekerasan yang diduga dilakukan senior bervariasi, mulai dari pemukulan, pengeroyokan yang menyebabkan luka memar, hingga menyebabkan retak tulang belakang dan trauma psikis pada korban. Mirisnya, insiden ini diduga terjadi di area asrama sekolah.
Baca Juga :
“Saya komunikasi juga dengan orangtua korban yang lainnya, mereka pun sama ternyata tidak melanjutkan pendidikan anaknya, karena anaknya mengalami hal serupa,” tutur S.
Padahal, SMAT KN dikenal sebagai sekolah berasrama dengan penekanan pada disiplin tinggi dan nilai keagamaan.
Namun, dugaan kelalaian pengawasan dari pihak sekolah dipertanyakan. Orang tua korban merasa pihak sekolah terkesan membiarkan atau menutupi kejadian ini.
Beberapa orang tua korban dikabarkan telah melaporkan kasus ini ke Polda Jabar, dan ada pula yang menuntut sekolah didampingi pengacara.
Mereka berharap pihak sekolah segera membenahi sistem pengawasan agar tradisi buruk ini tidak terulang.
“Beberapa orang tua korban lain kabarnya memutuskan untuk melaporkan dan sudah buat laporan juga katanya ke Polda Jabar,” pungkas S.* [Red]
![]()