Sejarah Panjang Kerupuk Melarat Khas Cirebon
Roel - 29 Maret 2022

Breaking News:
Wakil Ketua DPR RI Puji Transformasi Lahan Desa Sukamenak: Bukti Nyata APBN Membangun dari Desa
Waspada Lonjakan Harga, Cucun Ahmad Syamsurijal Desak Pemkab Bandung Proaktif Kendalikan Inflasi
Grand Final Duta Pajak 2026 Kabupaten Bandung, Dorong Milenial Jadi Agen Edukasi Pajak Daerah
Kasus Emeralda Resort Memanas! Pengembang Akui Tuntutan Baru dari Konsumen
Janji Tinggal Janji, Ratusan Pembeli Perumahan Emeralda Resort Merasa Tertipu
Roel - 29 Maret 2022

TOP JABAR, Cirebon – Nama kerupuk melarat sendiri lahir karena harga minyak goreng yang saat itu mahal. Tidak semua lapisan masyarakat di Cirebon pada saat itu bisa mendapatkan minyak karena harganya yang selangit. Hal tersebut yang kemudian mendorong masyarakat Cirebon membuat inovasi dengan memasak kerupuk menggunakan pasir.
Daerah yang dikenal dengan empal gentong, tahu gejrot, nasi jamblang hingga kerupuk melarat yang wajib dicicip oleh wisatawan yang datang.
Makanan yang juga disebut kerupuk mares singkatan dari “lemah ngeres” atau tanah berpasir itu tak sekadar enak dicicip, tapi juga punya cerita panjang yang menarik.
Sejarawan Cirebon menyebut kerupuk melarat tercipta saat masa sulit. Tepatnya saat ada tanam paksa atau cultuurstelsel pada masa penjajahan Kolonial Hindia Belanda.
Kala itu masyarakat Cirebon dipaksa untuk menanam tanaman yang mempunyai nilai ekonomi tinggi, seperti gula, kopi, dan rempah lainnya, namun tidak bisa menanam padi.
Baca Juga :
4 Tradisi Unik Menyambut Ramadhan di Indonesia, diantaranya ‘Munggahan’
Nah, kondisi tersebut membuat masyarakat Cirebon tidak memiliki persediaan makanan yang mencukupi sehingga hanya bisa menanam singkong untuk kebutuhan makan sehari-hari.
Pada masa sulit itu, lahir makanan berbahan baku singkong dan salah satunya adalah kerupuk melarat yang sampai saat ini terus dijaga oleh masyarakat Cirebon.
Sejarah kerupuk melarat ini Panjang, kurang lebih sekitar tahun 1830-an,” kata Budayawan dan pemerhati sejarah Cirebon Mustaqim Asteja.
Menurut Mustaqim, kuliner khas Cirebon itu awalnya bernama kerupuk mares. Namun seiring berjalannya waktu, banyak orang luar kota yang datang ke Cirebon dan melihat proses memasaknya tanpa menggunakan minyak goreng, maka dinamakan kerupuk melarat.
Kerupuk melarat sendiri berbahan dasar tepung aci yang dibumbui. Lalu diolah hingga digoreng tanpa minyak dan hanya menggunakan pasir sungai yang telah dibersihkan.
Saat ini, kerupuk yang identik dengan masyarakat miskin tersebut semakin digandrungi semua kalangan. Terlebih masyarakat di luar Cirebon. Harganya yang ramah di kantong dan rasanya yang gurih membuat kerupuk melarat itu menjadi salah satu buah tangan andalan.***(red)
![]()