Kantin Ibu Tatang, Penyelamat Mahasiswa Saat Kiriman Belum Tiba

Roel - 6 April 2026

TOP JABAR, Kota Bandung – Usai momen Lebaran, banyak mahasiswa yang kembali ke perantauan mulai merindukan hangatnya masakan rumahan. Di saat yang sama, tak sedikit dari mereka harus menghadapi kenyataan kiriman dari orang tua yang belum juga tiba.

Di tengah situasi itu, sebuah kantin sederhana di kawasan Sekeloa, Bandung, hadir menjadi solusi. Berlokasi di Jalan Sekeloa Tengah, tempat ini mungkin tak berada di titik strategis, tersembunyi di antara pemukiman padat. Namun bagi ribuan mahasiswa lintas generasi, Kantin Ibu Tatang justru dikenal sebagai “penyelamat” saat kondisi keuangan sedang seret.

Sejak dirintis pada 1990, kantin ini telah menjadi tempat singgah mahasiswa, mulai dari jenjang S1 hingga S3. Kawasan Sekeloa sendiri memang dikenal sebagai lingkungan padat kampus, baik negeri maupun swasta.

Menurut Dede (54), putra Ibu Tatang, awalnya kantin ini hanyalah warung kecil yang melayani mahasiswa sekitar, di masa ketika pilihan tempat makan masih terbatas. Seiring waktu, jumlah pelanggan terus meningkat hingga akhirnya berkembang menjadi bangunan dua lantai. Meski begitu, nuansa rumahan yang hangat tetap dipertahankan.

Namun, daya tarik utama kantin ini bukan hanya soal rasa. Lebih dari itu, nilai kepercayaan menjadi fondasi yang dijaga hingga kini.

Baca Juga :

Aksi Ugal-ugalan di Tol Priok, Dua Pengemudi Terlibat Kejar-kejaran

“Kalau belum ada uang, makan saja dulu. Bayarnya nanti kalau kiriman dari orang tua sudah datang,” ujar Dede, Minggu (5/4/2026) seperti dilansir dari laman Tribun Jabar.

Kantin ini buka setiap hari pukul 08.00 hingga 14.00 WIB. Meski selalu ramai, jam operasional tidak diperpanjang. Dede menyebut, sang ibu berprinsip bahwa kesehatan tetap nomor satu, sementara rezeki akan selalu menemukan jalannya.

Mahasiswa Pelanggan Setia

Bagi pelanggan setia, kantin ini bukan sekadar tempat makan, tetapi juga bagian dari strategi bertahan hidup. Intan Anisa (22), mahasiswa tingkat akhir di Universitas Komputer Indonesia, mengaku rutin membeli lauk di siang hari untuk stok makan malam.

“Biasanya aku masak nasi di kos, lauknya beli dari sini. Malam tinggal dihangatkan, jadi lebih hemat,” katanya.

Hal serupa disampaikan Indra (19), mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia. Ia rela datang dari Gegerkalong setelah mengetahui kantin tersebut dari media sosial.

“Awalnya lihat di TikTok, terus tanya teman. Katanya memang enak dan recommended,” ujarnya.

Di tengah hiruk pikuk kehidupan mahasiswa, Kantin Ibu Tatang bukan hanya soal makanan murah dan enak. Lebih dari itu, tempat ini menghadirkan rasa rumah—sesuatu yang tak bisa digantikan, terutama saat jauh dari keluarga.* (red/TJ)

TERKAIT:

POPULER: