“Gelar Tak Lagi Utama” Dedi Mulyadi Siapkan Rekrutmen Tamatan SD

Dedi Junaedi - 31 Maret 2026

TOP JABAR, Kota Bandung – Di tengah hangatnya suasana silaturahmi pekan kedua Syawal 1447 Hijriah, sebuah gagasan besar justru menggema dari halaman Gedung Sate, Senin (30/3/2026). Bukan sekadar apel pagi, momen ini menjadi panggung arah baru kepemimpinan Jawa Barat lebih berani, lebih membumi, dan jauh dari pola lama yang kaku.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan bahwa masa depan Provinsi Jawa Barat tidak bisa dibangun dengan cara-cara konvensional. Dalam pidatonya, ia menyoroti pola kerja birokrasi yang dinilai terlalu terpaku pada gelar, namun minim kehadiran di lapangan.

Di sela-sela arahannya, Dedi melontarkan gagasan yang cukup mengejutkan: rencana memprioritaskan rekrutmen tenaga teknis lapangan dari tamatan sekolah dasar (SD). Baginya, kemampuan kerja nyata di lapangan jauh lebih dibutuhkan dibanding sekadar titel akademis.

KDM sapaan akrab Dedi Mulyadi bahkan melabeli dirinya sendiri sebagai “Gubernur Pinggiran”. Sebuah simbol komitmen untuk keluar dari ruang-ruang formal dan hadir langsung di tengah masyarakat—di pinggir kali, pesisir pantai, hingga kawasan hutan. Ia ingin memastikan kebijakan lahir dari kebutuhan riil, bukan sekadar hasil diskusi di balik meja.

Baca Juga :

Sampah Pasar Caringin Jadi Sorotan, Dedi Mulyadi: Itu Urusan Pengelola

Komitmen tersebut, menurutnya, sejalan dengan filosofi manajemen Sunda “Pokpek Trak”, bekerja nyata, bukan sekadar bicara. Ia mendorong perubahan pola pikir, dari dominasi kajian akademis yang imajinatif menuju aksi konkret yang langsung dirasakan masyarakat.

Sebagai contoh, Dedi menyinggung strategi pengembangan pariwisata di Jawa Barat. Ia menilai masyarakat tidak membutuhkan kajian panjang yang rumit, melainkan penataan kawasan yang estetik dan berkarakter lokal, seperti penggunaan elemen injuk yang mampu menarik wisatawan secara masif.

Strategi ini, kata Dedi, terbukti efektif. Kini masyarakat justru menjadi “agen promosi” gratis melalui media sosial.

“Hari ini pemerintah daerah tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk mempromosikan pembangunan. Rakyat sendiri yang menceritakannya, bahkan mereka mendapatkan penghasilan sebagai content creator,” ungkapnya.

Rekrutmen Tenaga Lapangan

Salah satu poin paling mencuri perhatian adalah rencana rekrutmen tenaga teknis untuk periode 2026–2027. Dedi menegaskan bahwa pemerintah seharusnya lebih memprioritaskan kebutuhan riil di lapangan dibanding sekadar memenuhi formasi berbasis gelar.

Ia mencontohkan kondisi Jawa Barat yang dalam empat tahun terakhir relatif terhindar dari kemarau panjang. Hal ini menjadi peluang sekaligus tantangan dalam pengelolaan sumber daya air, terutama sistem irigasi.

Namun, Dedi menyayangkan bahwa pengelolaan irigasi saat ini dinilai mulai kehilangan “kalcer”—nilai budaya kerja yang dulu melekat kuat di masyarakat.*[red]

Loading

TERKAIT:

POPULER: