Cerita Keluarga Jurnalis Thoudy Badai Pasca Penawanan Tentara Israel
Krismanto - 22 Mei 2026

Krismanto - 22 Mei 2026

TOP JABAR — Suasana ketegangan yang sempat menyelimuti keluarga jurnalis Thoudy Badai akhirnya mencair, berganti dengan rasa haru dan kelegaan yang mendalam.
Setelah sempat ditawan oleh tentara Israel dalam misi kemanusiaan bersama rombongan Freedom Flotilla, Thoudy akhirnya berhasil memberikan kabar langsung kepada keluarganya di Indonesia melalui sebuah panggilan video (video call).
Panggilan yang dinanti-nanti itu masuk pada malam hari sekitar pukul 21.10 WIB. Ibu kandung Thoudy, Hani Hanifa Humanisa (56), mengungkapkan momen emosional saat pertama kali melihat wajah dan mendengar suara sang putra setelah melewati masa-masa mencekam.
”Benar-benar tidak nyangka. Kami baru bisa yakin bahwa Thoudy selamat setelah mengobrol langsung, mendengar suaranya, dan melihat wajahnya lewat video call,” ujar Hani saat ditemui di kediamannya di Cicalengka, Kabupaten Bandung. Jumat, 22 Mei 2026.
Hani menceritakan bahwa panggilan video tersebut dilakukan saat Thoudy sudah berada di Turki. Karena seluruh barang bawaan dan alat komunikasi pribadinya disita, Thoudy terpaksa meminjam ponsel milik staf setempat untuk menghubungi keluarga di tanah air.
Pertemuan digital tersebut berlangsung singkat namun sangat berarti. Menurut Hani, tidak banyak cerita detail yang disampaikan Thoudy malam itu karena keterbatasan waktu dan situasi di lokasi.
”Dia mungkin sangat exciting (antusias) hanya untuk mengabarkan kalau dia selamat. Jadi cuma say hello, tanya kabar, sambil tertawa-tawa. Kami di sini juga cuma bisa teriak-teriak saking bahagianya,” jelas Hani.
Singkatnya durasi panggilan tersebut dikarenakan Thoudy harus bergantian dengan relawan lain.
“Katanya antre, karena HP itu dipakai bergantian oleh semua relawan yang ingin menghubungi keluarga mereka masing-masing,” tambahnya.
Saat panggilan berlangsung, Hani juga sempat menyambungkan komunikasi tersebut kepada Pemimpin Redaksi Republika, tempat Thoudy bernaung, agar pihak kantor bisa langsung memastikan kondisi fisik sang jurnalis.
Mengenai kondisi Thoudy, Hani menjelaskan bahwa secara visual sang anak tampak dalam keadaan sehat. Kendati demikian, beberapa anggota keluarga sempat menaruh perhatian pada cara berjalan Thoudy yang tampak tidak biasa.
”Secara fisik kelihatan sehat, kalau mentalnya kita belum tahu ya. Cuma ada anggota keluarga yang jeli melihat, kok jalannya agak pincang. Saya sendiri tidak terlalu memperhatikan ke sana saat panggilan video,” tutur Hani.
Pihak keluarga menegaskan tidak ingin berspekulasi lebih jauh mengenai dugaan adanya kekerasan fisik selama masa penahanan oleh tentara Israel. Saat ini, keluarga masih menunggu hasil pemeriksaan medis resmi.
”Kami masih menunggu hasil visum dari rumah sakit yang menangani para relawan di Turki. Kami sangat berharap Thoudy tidak mendapatkan kekerasan fisik yang berat seperti yang digambarkan oleh relawan-relawan lainnya,” harapnya.
Rencana awal kepulangan Thoudy Badai bersama rombongan relawan Flotilla ke Indonesia sebenarnya dijadwalkan berlangsung hari ini. Namun, agenda tersebut terpaksa ditunda karena ada prosedur penting yang harus diselesaikan di Turki.
Berdasarkan koordinasi dengan pihak panitia pencari suaka dan relawan, penundaan terjadi karena banyaknya relawan yang membutuhkan penanganan medis intensif akibat kondisi fisik yang memprihatinkan setelah dibebaskan dari otoritas Israel.
”Begitu mereka dievakuasi dari Israel ke Turki, tim di sana melihat banyak kondisi fisik relawan yang memprihatinkan. Tampaknya diperlukan pemeriksaan fisik (visum) menyeluruh sebagai bukti hukum atau diplomasi ke depan. Makanya kepulangan ditunda dan kami belum tahu pasti kapan jadwal resminya,” jelas Hani.
Keluarga besar di Bandung kini fokus mempersiapkan penjemputan begitu jadwal kepulangan Thoudy ke tanah air sudah menemui titik terang. Rencananya, keluarga akan langsung bertolak ke Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, untuk menyambut Thoudy.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan apakah Thoudy akan diizinkan kembali melakukan peliputan di wilayah konflik di masa depan, Hani tidak dapat menyembunyikan rasa trauma dan stres yang dialaminya selama beberapa hari terakhir.
”Aduh, untuk sekarang saja saya sudah sangat stres memikirkan berita-berita kemarin. Saya tidak mau stres lagi dengan pertanyaan atau bayangan ke depan nanti bagaimana. Yang penting sekarang anak saya pulang dulu dengan selamat,” pungkas Hani.**
![]()