Gizi untuk Rakyat atau Gaya untuk Pejabat? Skandal Kaos Kaki Rp6,9 Miliar
Roel - 10 April 2026

Breaking News:
Polresta Bandung Ungkap Kasus Penggelapan Motor, Pelaku Jual Kendaraan untuk Judi Online
Polresta Bandung Bongkar Gudang Oplos LPG Subsidi, 3.763 Tabung Portable Disita
Pameran Alutsista HUT TNI ke-81 di Soreang, Kapolresta Bandung Hadir di Tengah Antusiasme Warga
Kisah Penjual Sapu Lidi Cicalengka, Kapolresta Bandung Kombes Tri Suhartanto Temui Agus!
Pisah Sambut Kapolresta Bandung, Tri Suhartanto Lanjutkan Estafet
Roel - 10 April 2026

TOP JABAR, Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) kini tengah menjadi pusat kecaman publik. Di saat masyarakat menaruh harapan besar pada program Makan Bergizi Gratis (MBG), lembaga ini justru mempertontonkan gaya hidup birokrasi yang dinilai tidak peka terhadap kondisi ekonomi rakyat.
Bayangkan saja, anggaran sebesar Rp6,9 miliar ludes hanya untuk pengadaan 17.000 pasang kaos kaki. Jika dikalkulasi, harga per pasangnya menyentuh angka Rp100.000—sebuah nominal yang fantastis dan dianggap mengada-ngada untuk sekadar alas kaki operasional.
Belum kering luka publik soal kaos kaki “Sultan”, BGN kembali memicu amarah dengan pengadaan puluhan ribu unit motor listrik untuk Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Harganya pun tak main-main: hampir Rp50 juta per unit.
Baca Juga :
Haji 2026 Siap Digelar, Keberangkatan Perdana Dimulai 22 April
Sengkarut anggaran ini semakin keruh setelah Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, angkat bicara. Purbaya menegaskan bahwa pihaknya pernah menolak pengajuan anggaran motor listrik tersebut tahun lalu. Ia pun mengaku terkejut melihat proyek tersebut tetap berjalan tanpa sepengetahuannya.
Kini, Kemenkeu bersiap melakukan audit total dan pengecekan ulang terhadap anggaran BGN. Publik pun bertanya-tanya: apakah dana triliunan rupiah ini benar-benar disiapkan untuk memberi gizi pada rakyat, atau justru hanya untuk memanjakan fasilitas pejabat di balik layar?* (red)