Dedi Mulyadi Ungkap Rencana Atasi Macet hingga Tekan Kemiskinan
Roel - 18 April 2026

Breaking News:
Kapolresta Bandung Berganti, Kombes Tri Suhartanto Dipercaya Gantikan Aldi Subartono
Gubernur Jabar Minta Pendakian Gunung Ditunda, Antisipasi Karhutla di Musim Kemarau
Sisa Kuota Internet Pelanggan Tak Boleh Hangus, Komdigi Ingatkan Operator
Muktamar NU Desak Pemerintah Pisahkan Anggaran MBG dari Dana Pendidikan Mulai 2027
Ironis! NIK Nenek Penerima PKH Terindikasi Judi Online, Bansos Tersendat
Roel - 18 April 2026

TOP JABAR, Kota Bandung – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memaparkan sejumlah rencana strategis Pemerintah Provinsi Jawa Barat, mulai dari penanganan kemacetan di Kota Bandung hingga kebijakan sosial kemasyarakatan.
Salah satu persoalan utama yang disoroti adalah kemacetan parah di pintu keluar Tol Pasteur, khususnya saat akhir pekan (Jumat hingga Minggu).
Kondisi ini dinilai kerap menimbulkan antrean panjang kendaraan akibat adanya lampu lalu lintas di gerbang keluar tol. Sebagai solusi, Dedi mengungkapkan rencana pembangunan underpass di kawasan Pasteur.
Ia menjelaskan bahwa jalur alternatif tersebut nantinya memungkinkan kendaraan dari arah samping melintas melalui bawah tanah dan langsung bergerak tanpa hambatan lampu lalu lintas.
Menurutnya, rencana ini masih dalam tahap kajian. Jika hasil kajian tata kota dan aspek infrastruktur dinyatakan layak, maka Detail Engineering Design (DED) ditargetkan dapat masuk dalam perubahan anggaran tahun ini, sehingga pembangunan fisik bisa dimulai pada tahun depan.
Baca Juga :
Gubernur Jabar Nonaktifkan Kepala Samsat Soekarno Hatta Terkait Pelayanan Pajak
Selain fokus pada infrastruktur, Dedi juga menyoroti persoalan sosial ekonomi di masyarakat. Ia berencana menerbitkan surat edaran (SE) yang berisi imbauan kepada masyarakat berpenghasilan rendah agar tidak memaksakan diri menggelar pesta atau hajatan besar, seperti pernikahan maupun khitanan, yang membutuhkan biaya tinggi.
Ia menegaskan bahwa imbauan tersebut bertujuan mencegah masyarakat terjerat utang akibat biaya pesta yang berlebihan. Menurutnya, kebiasaan memaksakan diri dalam menggelar acara besar justru dapat memperburuk kondisi ekonomi dan berkontribusi pada meningkatnya angka kemiskinan.* (red)