Geng Cari Gara-gara Bikin Resah Warga Bandung, Ema : Istilah Aneh

Admin - 21 Januari 2023

TOP JABAR, Kota Bandung – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bandung Ema Sumarna menyebut Kota Bandung terdapat fenomena geng pemuda yang meresahkan masyarakat, dengan nama Cagar atau Cari Gara-Gara.

Menurut dia, hal itu diketahui setelah dirinya melakukan rapat koordinasi dengan berbagai unsur masyarakat, sehingga menjadi aspek kerawanan bagi ketertiban Kota Bandung.

“Sekarang ini ada kelompok Cagar, katanya istilahnya cari gara-gara kan agak aneh,” kata Ema di Polrestabes Bandung, Kota Bandung, Jumat (20/1/2023) seperti dilansir dari laman Republika.

Ema mengaku prihatin atas keberadaan kelompok tersebut karena geng itu seolah-olah tersenyum di atas penderitaan orang lain. Untuk itu, Ema bakal mengumpulkan seluruh camat di Kota Bandung guna membahas hal yang berkaitan dengan ketertiban masyarakat itu, khususnya mengantisipasi anak-anak agar tak terjerumus ke kelompok yang serupa.

Masih kata Ema, belum mengetahui angka persis jumlah pelajar di Kota Bandung yang terlibat dengan geng motor. Dia mengatakan kewenangan pengelolaan sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) itu berbeda.

“Di kita itu baru sampai di SMP dan sederajat, kalau SMA itu kan kewenangannya Disdik Provinsi,” katanya.

Sementara itu, Ketua Umum Forum RW Kota Bandung Lili Maulana mengatakan, keberadaan geng itu berasal dari kawasan Padasuka, Kota Bandung. Menurut dia, keberadaan anggota geng Cagar itu menjamur di setiap RW sejak beberapa tahun terakhir.

Lili mengatakan, mayoritas anak-anak yang ikut geng itu merupakan pelajar SMP dan diketuai oleh seorang perempuan. Bahkan, menurut dia, ada anak SD yang ikut-ikutan ke geng tersebut.

Selain meresahkan, menurut dia, mereka kerap berlaku tidak sopan dan tidak beretika kepada masyarakat setempat. Jika dibiarkan, dia khawatir keberadaan geng itu bakal berujung ke tindakan kriminalitas.

Baca Juga :

Parkir Off Street Kembali Ditinjau Pemkot Bandung

“Jadi kalau ada ketua RW yang membubarkan mereka, malah mereka melawan. Pernah ada ketua RW itu didatangi oleh geng yang anggotanya itu lebih dewasa. Mungkin geng Cagar itu dibekingi geng lainnya,” kata Lili.

Mirisnya, kata dia, mayoritas orang tua dari anak-anak geng itu seolah-olah membiarkan anaknya keluyuran pada malam hari.

“Ini mirisnya kelompok itu beradu gengsi, kalau ada anak bukan kelompoknya itu dipukuli, atau mereka dicegat di sekolahnya,” katanya.

Untuk itu, Lili pun meminta Pemerintah Kota Bandung untuk memasang kamera pengawas atau CCTV di setiap RW, guna mengawasi pergerakan geng-geng pemuda yang berpotensi menjamur di Kota Bandung.

“Kalau setiap RW ada CCTV kan kedeteksi, kalau mereka melakukan tindakan kriminal larinya ke RW lain itu terdeteksi. Saya minta CCTV bukan untuk RW saya saja, tapi seluruh Kota Bandung,” kata Lili.***

Loading

TERKAIT: