El Nino Mulai Menggigit Lampung, Ribuan Hektare Sawah Terancam Puso
Roel - 20 Juni 2026

Breaking News:
Listrik Jawa Terganggu, PLN Minta Maaf dan Kejar Pemulihan Sistem
Tak Boleh Ada Warga Terlantar, Pemkot Bandung Ingatkan Faskes Jangan Tolak Pasien
Din Syamsuddin Pasang Badan untuk Roy Suryo-Dokter Tifa: Siap Jadi Penjamin agar Tak Ditahan
El Nino Mulai Menggigit Lampung, Ribuan Hektare Sawah Terancam Puso
Kajati Sultra, Sugeng Riyanta Orasi Ilmiah di Sespimti Polri di Lembang
Roel - 20 Juni 2026

TOP JABAR, Jakarta – Ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino mulai menghantui sektor pertanian di Provinsi Lampung. Memasuki puncak musim kemarau, ribuan hektare lahan pertanian, terutama sawah tadah hujan, menghadapi risiko kekurangan air yang dapat berujung pada gagal panen.
Dampak paling parah dirasakan di sejumlah wilayah yang menjadi sentra produksi pangan. Salah satunya di Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan. Lahan persawahan yang sebelumnya tampak subur kini berubah kering, dengan permukaan tanah mulai pecah akibat pasokan air yang semakin terbatas sejak pertengahan Mei 2026.
Sejumlah tanaman padi yang baru berusia sekitar tiga hingga empat pekan mulai mengalami gangguan pertumbuhan. Bahkan sebagian tanaman terancam mati karena kebutuhan air tidak terpenuhi.
Berbagai upaya dilakukan petani untuk mempertahankan tanaman mereka. Salah satunya dengan menggunakan mesin pompa air dari sumber air yang masih tersedia. Namun, solusi tersebut justru menambah beban biaya produksi karena petani harus mengeluarkan uang tambahan untuk membeli bahan bakar.
“Sudah hampir satu bulan kondisi sawah mulai mengering. Bukan hanya lahan saya, hampir semua sawah di wilayah sini mengalami hal yang sama. Air makin sulit didapat,” ujar Saeran, salah seorang petani di Desa Natar, Lampung Selatan, Sabtu (20/6/2026).
Baca Juga :
Tegur Maling Motor, Brigadir Arya Tewas Ditembak dari Jarak Dekat
Saeran mengatakan, saat awal musim tanam pada Mei lalu, kondisi lahan masih cukup mendukung karena masih terdapat cadangan air. Namun memasuki Juni, intensitas hujan menurun drastis sehingga sumber air di area persawahan ikut menyusut.
“Ketika mulai tanam air masih ada. Kami tidak menyangka hujan berhenti cukup lama. Sekarang tanah sudah mulai retak dan banyak tanaman yang mulai layu,” katanya.
Petani berharap hujan segera turun agar tanaman padi yang masih muda dapat terselamatkan. Sebab, apabila kondisi kering terus berlanjut, potensi kerusakan tanaman diperkirakan semakin meluas.
“Kalau tidak segera turun hujan, tanaman bisa banyak yang mati. Padi usia muda sangat membutuhkan air,” ungkap Saeran.
Untuk mengurangi risiko puso, petani kini harus mengoperasikan pompa air selama berjam-jam setiap hari. Upaya tersebut dilakukan agar tanaman tetap mendapatkan suplai air meski sumber alami semakin terbatas.
“Biaya bertambah karena harus membeli bahan bakar pompa. Tapi tidak ada pilihan, ini dilakukan supaya tanaman tetap hidup,” tuturnya.
Kekeringan juga mulai dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah penghasil padi lainnya di Lampung, seperti Kabupaten Lampung Timur, Way Kanan, Tulang Bawang Barat, dan Tanggamus. Minimnya pasokan air membuat petani mulai khawatir terhadap keberlangsungan musim tanam tahun ini.
Jika kondisi kemarau berlangsung lebih lama, luas tanam dan produktivitas pertanian Lampung berpotensi mengalami penurunan. Ancaman gagal panen pun menjadi kekhawatiran utama bagi petani.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau 2026 datang lebih awal di sejumlah wilayah Indonesia. Curah hujan diprediksi berada di bawah kondisi normal sehingga menyebabkan musim kering berlangsung lebih panjang.
Untuk wilayah Lampung, periode puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Juli hingga September 2026. Sejumlah daerah bahkan diprediksi mengalami kondisi paling kering pada September mendatang.
Selain itu, BMKG juga mengingatkan adanya peluang munculnya fenomena El Nino kategori lemah hingga moderat pada pertengahan tahun dengan kemungkinan mencapai 50–60 persen. Kondisi tersebut berpotensi memperburuk dampak kekeringan di sejumlah wilayah pertanian.
Di tengah ancaman musim kering yang masih akan berlangsung beberapa bulan ke depan, petani berharap ada langkah cepat dari pemerintah, terutama dalam memastikan ketersediaan air untuk pertanian agar produksi pangan tetap terjaga dan risiko gagal panen dapat diminimalkan.* (red/Liputan6)