MILLENAL, SANG ANAK BABY BOOMER
Roel - 21 Februari 2022

Breaking News:
Jalankan Instruksi Gubernur, Bapenda Kabupaten Bandung Pastikan Penghapusan Denda Pajak
Dorong UMKM Naik Kelas, Alfamart Gaungkan Inisiatif UMKM Tumbuh Bersama
Gelar Gerakan Pangan Murah di Polsek Majalaya, 10 Ton Beras Ludes Terjual
Disnaker Kabupaten Bandung Gelar Job Fair di Cangkuang, Tawarkan Ratusan Lowongan Kerja
Roel - 21 Februari 2022
Oleh : Witarsa Wattarman, S.I.Kom, M.I.Kom (Dosen LB Prodi Ilmu Komunikasi Fisip Unpas)
Top Jabar, Kota Bandung – Istilah Millenial belakangan ini sangat booming dalam perbendaharaan pembicaraan siapapun dan sangat akrab terdengar, baik dalam dunia pendidikan, politik, ekonomi, sosial, keagamaan dan lainnya. Istilah tersebut berasal dari Millennials yang diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe pada tahun 1991 dalam beberapa bukunya Generations. Howe dan Strauss menggunakan kata ini untuk menjelaskan kelompok manusia yang lahir dari tahun 1980 sampai 2000.
Kata Millenial dipilih sebagai nama sebab manusia tertua kelompok ini baru lulus SMA saat pergantian milenium, menandakan mereka akan berada pada umur produktif di milenium baru. Mereka dikelompokkan karena menurut Howe, generasi ini terbukti mempunyai sikap dan tingkah laku berbeda dari generasi sebelumnya sehingga butuh nama pembeda.
Generasi Millenial sering dinilai sebagai “anak jaman sekarang atau anak jaman now” dengan perilaku yang khas. Tidak sedikit yang kerap menyebut anak muda (atau yang merasa muda) dengan panggilan kaum Millenial. Ada istilah lain yang memiliki jarak berbeda, dimana masyarakat menyebutnya Kaum Kolonial, yang diartikan generasi kolot (tua).
Sebenarnya sejak kapan Millenial ini lahir dan siapa dia?
Millenial juga dikenal sebagai Generasi Y atau Generasi Langgas adalah kelompok demografi setelah Generasi X (Gen-X).
Generasi X adalah generasi yang lahir sekitar tahun 1965 hingga tahun 1980. Generasi X sering disebut dengan baby bust dikarenakan penurunan angka kelahiran bayi yang signifikan dibandingkan generasi Baby Boomer sebelumnya.
Generasi X tumbuh di masa perkembangan teknologi yang sama sekali baru seperti handphone dan laptop, juga kesulitan ekonomi pada tahun 1980-an. Namun demikian, Generasi X dinilai sebagai generasi yang mandiri, pekerja keras, berorientasi pada karier, fleksibel, mahir dalam teknologi, logis, banyak akal, dan problem solver (pemecah masalah) yang baik.
Tidak ada batas waktu yang pasti untuk awal dan akhir dari kelompok ini. Para ahli dan peneliti biasanya menggunakan awal tahun 1980-an sebagai awal kelahiran kelompok ini hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahiran.
Millenial pada umumnya adalah anak-anak dari generasi Baby Boomers. Generasi Baby Boomer adalah generasi yang lahir pada tahun 1946 hingga tahun 1964. Dinamakan Baby Boomer, karena angka kelahiran bayi yang sangat besar seperti boom setelah berakhirnya Perang Dunia II. Di Amerika Serikat saja ada 76,4 juta kelahiran dan membentuk hampir 40 persen dari populasi Negara. Generasi Baby Boomer dinilai sebagai generasi yang membangun era setelah Perang Dunia II, berkomitmen, kompetitif, pemimpin yang baik, terstruktur, loyal, pekerja keras, namun tidak suka dikritik.
Karena Millenial, pada umumnya adalah anak-anak dari generasi Baby Boomer, kadang disebut sebagai “Echo Boomer”, karena adanya booming (peningkatan besar), tingkat kelahiran pada tahun 1980-an dan 1990-an. Namun umumnya tingkat kelahiran Echo Boomer ini tidak sebesar dari masa ledakan populasi pasca Perang Dunia II.
Karakteristik Millenial berbeda-beda berdasarkan wilayah dan kondisi sosio ekonomi. Namun generasi ini umumnya ditandai dengan peningkatan dan keakraban dalam komunikasi, media dan teknologi digital.
Tingginya minat generasi Millenial terhadap teknologi digital, sangat dimungkinkan jika ada lagu dari Bimbo berjudul Ada anak bertanya pada Bapaknya, saat ini terbalik menjadi : Ada bapak bertanya pada anaknya, untuk hal-hal yang menyangkut teknologi digital. Saking dekatnya generasi ini dengan teknologi digital, bahkan bisa jadi bagian dari nafasnya.
Artinya kedekatan generasi Millenial dengan teknologi digital ini sulit untuk dipisahkan, karena rata-rata setiap tahun terjadi peningkatan penggunaan teknologi digital ini yang sangat banyak dinikmati oleh kaum Millenial. Tidak ada waktu sedikitpun generasi Millenial ini yang melepaskan perangkat mobile dari dirinya, sepanjang sedang tidak beristirahat.
Generasi Millenial juga dinilai sebagai generasi yang ambisius, sangat mahir tentang hal digital, percaya diri, mempertanyakan otoritas, banyak menggunakan bahasa gaul, lebih sering menghabiskan waktu sendiri, dan rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Namun demikian generasi ini rentan terkena depresi juga anxiety atau perasaan cemas menetap atau memburuk hingga akhirnya mengganggu aktivitas sehari-hari.
Kehadiran teknologi digital memang secara bersamaan dengan kelahiran mereka. Mungkin saja hal yang sama atau kedekatan teknologi digital juga bakal terjadi, jika teknologi digital ini lahir pada masa Baby Boomers.
Baca Juga :
Awal 2016, produsen perangkat mobile Ericsson mengeluarkan 10 Tren Consumer Lab untuk memprediksi beragam keinginan konsumen. Laporan Ericsson lahir berdasarkan wawancara kepada 4.000 responden yang tersebar di 24 negara dunia. Dari 10 tren tersebut beberapa di antaranya, adalah adanya perhatian khusus terhadap perilaku generasi Millenial.
Dalam laporan tersebut Ericsson mencatat, produk teknologi akan mengikuti gaya hidup masyarakat Millenial. Sebab, pergeseran perilaku turut berubah beriringan dengan teknologi. Produk teknologi baru akan muncul sebagai akomodasi perubahan teknologi.
Sepanjang tahun, beberapa prediksi yang disampaikan Ericsson berhasil terbukti. Salah satunya, perilaku Streaming Native yang kini kian populer. Jumlah remaja yang mengonsumsi layanan streaming video kian tak terbendung. Ericsson mencatat, hingga 2011 silam hanya ada sekitar tujuh persen remaja berusia 16 – 19 tahun yang menonton video melalui Youtube.
Rata-rata mereka menghabiskan waktu di depan layar perangkat mobile sekitar tiga jam sehari. Angka tersebut melambung empat tahun kemudian menjadi 20 persen. Waktu yang dialokasikan untuk menonton streaming juga meningkat tiga kali lipat. Fakta tersebut membuktikan, perilaku generasi Millenial sudah tak bisa dilepaskan dari menonton video secara daring.
Hal ini tentu menimbulkan dampak terhadap pola hidup dan sikap dari generasi Millenial itu sendiri. Seperti dikutip dari livescience.com dar USA Today, ada sebuah studi yang menunjukkan bahwa generasi Millenial lebih terkesan individual, cukup mengabaikan masalah politik, fokus pada nilai-nilai materialistis, dan kurang peduli membantu sesama. Hal ini berbeda dengan Generasi X dan Generasi Baby Bommer pada saat usia yang sama.
Generasi Millenial bila dilihat dari sisi negatifnya, merupakan pribadi yang malas, narsis, dan suka sekali melompat dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain. Kaum Millenial ini memandang, pekerjaaan tidak hanya sebatas datang, pulang, menerima gaji, dan tunjangan yang lebih baik.
Tidak seperti generasi orang tua mereka (Baby Boomer) yang memandang pekerjaan sebagai sebuah keharusan dalam penghidupan dan melakukan pekerjaan walau mereka sebenarnya tidak menyukai pekerjaan mereka. Kondisi ini berdampak terhadap perusahaan yang merasa kesulitan untuk merekrut kaum Millenial sebagai sumber daya manusia mereka.
Akan tetapi, mereka memiliki sisi positif, antara lain merupakan pribadi yang pikirannya terbuka, pendukung kesetaraan hak (misalnya tentang LGBT atau kaum minoritas). Mereka juga memiliki rasa percaya diri yang bagus, mampu mengekpresikan perasaannya, pribadi liberal, optimis, dan menerima ide-ide dan cara-cara hidup.
Majalah Time sempat mengadakan polling yang hasilnya menunjukkan bahwa generasi ini menginginkan jadwal kerja yang fleksibel, lebih banyak memiliki “me time” dalam pekerjaan, dan terbuka saran serta kritik, termasuk nasihat karir dari pimpinannya.
Generasi Millenial juga datang dengan usia dalam waktu dimana industri hiburan mulai terpengaruh oleh internet dan perangkat seluler.
Baca Juga :
Teknologi juga membuat para generasi internet tersebut mengandalkan media sosial sebagai tempat mendapatkan informasi. Saat ini, media sosial telah menjadi platform pelaporan dan sumber berita utama bagi masyarakat. Bahkan minat yang sangat tinggi dari generasi Millenial ini terlihat menyulut generasi Baby Boomer bahkan semua generasi, untuk mengakses informasi apapun yang dalam sekejap. Masyarakat akhirnya benar-benar mengandalkan media sosial untuk mendapatkan informasi terkini dari sebuah peristiwa.
Generasi Millenial menganggap bahwa teknologi digital sebagai sebuah gaya hidup yang tidak dapat terpisahkan. Akibatnya generasi ini lebih tertarik dengan berbagai informasi yang didapatkan melalui internet atau media sosial, dibanding media mainstream seperti televisi, koran dan radio. Karakteristik dari generasi Milenial ini dapat berupa sifat cara pandang, dan pola pikir yang berbeda dalam kehidupannya untuk menjalankan suatu aktivitas.
Generasi Millenial suka dengan hal-hal yang instan dan tidak menimbulkan kerumitan. Kemudian cara hidupnya pun sangat multitasking.
Kita belum tahu secara pasti, generasi apa berikutnya pasca generasi Millenial. Namun dapat diprediksi akan muncul generasi yang sangat lebih tinggi terhadap pemanfaatan teknologi digital, seiring meningkatnya pertumbuhan teknologi ini ke depan.***