Setahun Kepemimpinan Farhan–Erwin: Bandung di Persimpangan, Gebrakan Dinanti

Dedi Junaedi - 19 Februari 2026

Oleh : Susanto Triyogo A, S.ST., MT Sekretaris Komisi 1 DPRD Kota Bandung, Fraksi PKS

TOP JABAR, Kota Bandung – Setahun sudah Kota Bandung dipimpin Farhan–Erwin sebagai wali kota definitif. Saat awal menjabat, harapan publik begitu besar terhadap percepatan pembenahan kota, lahirnya inovasi, serta solusi nyata atas persoalan klasik perkotaan. Namun hingga kini, pertanyaan publik mulai menguat: di mana gebrakan yang dijanjikan?

Sebagai ibu kota Jawa Barat dengan karakter kota jasa dan perdagangan berpenduduk padat serta berada di kawasan Cekungan Bandung, tantangan tata kelola lingkungan dan perkotaan memang kompleks. Di tengah potensi ekonomi kreatif, pendidikan, teknologi, dan pariwisata, berbagai persoalan dasar justru masih mendominasi — mulai dari sampah, kemacetan, kerusakan jalan, hingga banjir berulang.

Krisis Sampah Belum Tertangani
Masalah sampah menjadi isu paling krusial. Pasca pembatasan operasional TPA dan belum optimalnya alternatif pengolahan, penumpukan sampah masih terjadi di sejumlah titik. Pembentukan petugas pengolah sampah belum menunjukkan dampak signifikan, sementara sistem 3R dan edukasi pengurangan sampah dari sumber masih lemah. Tanpa inovasi dan langkah strategis menuju pengelolaan berbasis ekonomi hijau, krisis ini berpotensi menjadi ancaman ekologis serius.

Kemacetan Tanpa Lompatan Kebijakan
Pertumbuhan kendaraan pribadi tidak diimbangi transportasi publik yang terintegrasi. Program angkutan umum modern belum berjalan optimal dan masih tumpang tindih dengan sistem lama, sehingga kemacetan tetap menjadi masalah harian yang menggerus produktivitas warga.

Ekonomi Kreatif Belum Maksimal Tekan Pengangguran
Sebagai pusat ekonomi kreatif, Bandung seharusnya mampu menciptakan lebih banyak lapangan kerja berbasis inovasi. Namun stimulus kebijakan bagi UMKM dan sektor kreatif dinilai belum kuat, tercermin dari masih tingginya angka pengangguran, termasuk di kalangan lulusan sarjana.

Infrastruktur dan Banjir Masih Tambal Sulam
Perbaikan jalan kerap bersifat sementara akibat lemahnya koordinasi dan kualitas pekerjaan. Di sisi lain, banjir masih berulang saat hujan deras. Penanganan drainase, penambahan ruang terbuka hijau, serta koordinasi lintas wilayah hulu–hilir dinilai belum berjalan maksimal.

Baca Juga :

Alarm Kemiskinan di Bojongloa Kaler: Saatnya Aksi Nyata Pemerintah

Banyak Rencana, Minim Eksekusi
Sejumlah agenda seperti digitalisasi layanan publik dan revitalisasi kawasan kota telah diumumkan, namun sebagian masih berada pada tahap perencanaan. Masyarakat kini menanti implementasi program yang konkret, cepat, dan terukur.

Bandung Menunggu Signature Program
Setiap kepemimpinan membutuhkan program unggulan sebagai arah perubahan. Hingga satu tahun berjalan, identitas kebijakan tersebut belum terlihat jelas. Bandung tidak kekurangan ide — yang dibutuhkan adalah keberanian mengambil keputusan strategis dan percepatan eksekusi.

Kini Bandung berada di persimpangan. Kota ini membutuhkan langkah tegas, kebijakan terukur, dan keberpihakan nyata agar potensi besar yang dimiliki tidak berhenti sebagai wacana, melainkan menjadi kemajuan yang dirasakan langsung oleh warganya.* [red]

Loading

TERKAIT:

POPULER: