RGC Sebut Berhasil Tembak Jatuh F-35 AS, Nasib Pilot Misterius
Dedi Junaedi - 4 April 2026

Breaking News:
Perkuat Solidaritas dan Kualitas Kader, Imah Rancage Dapil Jabar 2 Gelar Retret Kader di Rancabali
Kenang Dedikasi Almarhum Fathan Subchi, MASURA DAN DPC PKB Kab Bandung Gelar Tahlil dan Doa Bersama
Kepergok Curi Ayam Bangkok, Terduga Pelaku Diduga Aniaya Warga hingga Meninggal Dunia
Rajiv Tegaskan Komitmen Terus Bersama Rakyat, Sudah Jangkau 555 Titik di Kabupaten Bandung dan KBB
Job Fair Majalaya Disambut Antusias, Pencari Kerja Tak Perlu Repot Bawa Surat Lamaran
Dedi Junaedi - 4 April 2026

TOP JABAR, Jakarta – Korps Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) pada Jumat, 3 April 2026, mengklaim telah menembak jatuh sebuah jet tempur F-35 milik Amerika Serikat di wilayah tengah Iran.
Berdasarkan laporan kantor berita semi-resmi Tasnim News Agency yang mengutip pernyataan IRGC, pesawat tersebut dilaporkan hancur. Namun, hingga kini nasib pilotnya masih belum diketahui.
Klaim ini menjadi yang kedua kalinya disampaikan Iran sejak pecahnya konflik antara AS dan Israel dengan Iran pada 28 Februari lalu. Sebelumnya, pada 19 Maret, Teheran juga mengklaim berhasil menjatuhkan jet F-35 milik AS, namun pernyataan tersebut telah dibantah oleh pihak Washington. Hingga saat ini, pemerintah AS belum memberikan tanggapan resmi atas klaim terbaru tersebut.
Selain itu, Iran juga mengklaim telah menembak jatuh jet tempur F-16 milik Israel pada Kamis (2/4/2026). Situasi keamanan di kawasan pun dilaporkan masih dalam kondisi siaga tinggi sejak konflik memanas.
Baca Juga :
Ratusan SPBU di Filipina Tutup Imbas Krisis Energi akibat Perang Iran
Dalam perkembangan lain, serangan yang dilakukan oleh AS dan Israel disebut telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal ke wilayah Israel serta sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS. Konflik ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, tetapi juga memicu krisis energi global serta mengganggu sektor penerbangan internasional. (red)