DPR RI Desak Dirut KAI Mundur, Siapa yang Salah di Balik Tabrakan Ini?
Roel - 29 April 2026

Roel - 29 April 2026

TOP JABAR, Jakarta – Anggota Komisi VI DPR RI, Firnando Ganinduto, mendesak Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) mundur sebagai bentuk tanggung jawab atas tragedi tabrakan maut antara kereta jarak jauh dan KRL di Stasiun Bekasi Timur.
Menurut Firnando, kegagalan yang berujung korban jiwa tidak bisa hanya dibebankan pada petugas teknis di lapangan. Ia menegaskan, tanggung jawab utama tetap berada di level manajemen puncak.
“Ada persoalan mendasar terkait pengawasan, kesiapan sistem keselamatan, hingga standar operasional. Ini menjadi tanggung jawab manajemen. Kami mendesak Dirut KAI untuk mundur,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).
Politikus Partai Golkar itu juga menilai insiden ini mencerminkan lemahnya implementasi manajemen keselamatan di sektor transportasi publik. Ia menekankan, keselamatan harus menjadi prioritas utama yang terintegrasi dalam seluruh lini operasional, mulai dari pengaturan sinyal hingga pengendalian perjalanan secara real-time.
Firnando turut mendorong audit menyeluruh terhadap sistem operasional KAI, termasuk evaluasi komunikasi antarstasiun, prosedur darurat, serta keandalan teknologi pengendalian kereta.
Selain itu, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) diminta transparan dalam proses investigasi guna mengembalikan kepercayaan publik dan memastikan peristiwa serupa tidak terulang.
“Ini harus jadi momentum reformasi total sistem keselamatan perkeretaapian,” tegasnya.
Diketahui, kecelakaan melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL terjadi pada Senin (27/4/2026) malam. Sebanyak tujuh orang dilaporkan meninggal dunia, sementara puluhan korban lainnya masih menjalani perawatan intensif di sejumlah rumah sakit.
Baca Juga :
12 Poin Penting UU PPRT yang Baru Disahkan DPR, Apa Saja Isinya?
Proses evakuasi berlangsung dramatis, dengan petugas gabungan mengevakuasi korban dari dalam rangkaian kereta yang mengalami kerusakan parah. Sejumlah perjalanan kereta di lintas Jakarta-Cikarang sempat mengalami keterlambatan bahkan pembatalan akibat insiden tersebut.
Peristiwa bermula saat KRL relasi Cikarang–Jakarta menabrak sebuah taksi di perlintasan tanpa palang pintu. Insiden itu menyebabkan gangguan perjalanan dan membuat salah satu rangkaian KRL terhenti di jalur.
Dalam kondisi tersebut, KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Pasar Turi yang melaju di jalur yang sama tidak dapat menghindari tabrakan, sehingga kecelakaan pun tak terelakkan.* (red)
![]()