Belasan Kiai di Kuningan dan Cirebon Diduga Jadi Korban Penipuan Proyek Dapur MBG

Roel - 15 Mei 2026

TOP JABAR, Bandung – Sebanyak 13 kiai dari wilayah Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Cirebon diduga menjadi korban penipuan berkedok kerja sama program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kerugian yang dialami masing-masing korban disebut mencapai ratusan juta rupiah.

Koordinator Tim Hukum pesantren korban dapur MBG Koperasi DSN sekaligus LBH Gerakan Pemuda Ansor, Afrendi Sikumbang, menjelaskan kasus tersebut bermula ketika sejumlah pimpinan pondok pesantren mendatangi pihaknya untuk mengadukan seseorang berinisial YH yang mengatasnamakan Koperasi DSN.

Menurut Afrendi, YH diduga menawarkan kerja sama kepada para kiai dengan mengklaim koperasi tersebut sebagai mitra resmi Badan Gizi Nasional (BGN). Para korban dijanjikan bisa menjadi bagian dari program dapur MBG yang disebut memiliki potensi bisnis besar.

“Para kiai diyakinkan bahwa Koperasi DSN memiliki hubungan resmi dengan BGN dan menawarkan peluang usaha dari program MBG yang dianggap menjanjikan,” ujarnya, Rabu (13/5/2026).

Karena merasa yakin, para pimpinan pesantren kemudian diminta mengajukan proposal agar bisa menjadi mitra BGN melalui koperasi tersebut. YH disebut mengklaim memiliki ribuan kuota pembangunan titik dapur MBG di berbagai daerah di Indonesia.

Setelah proposal selesai dibuat, para kiai diminta menyerahkan dokumen tersebut ke kantor Koperasi DSN di Cianjur. Namun, berdasarkan sejumlah dokumen yang diperiksa, alamat kantor koperasi disebut berbeda-beda, termasuk tercatat berada di wilayah Duren Sawit, Jakarta Timur.

Afrendi menuturkan, proses kerja sama dibuat menggunakan istilah akad berbahasa Arab seperti musyarakah hingga mutanaqisah agar terkesan meyakinkan di kalangan pesantren. Proposal kemudian diperiksa dan disetujui, sebelum dilakukan penandatanganan akad kerja sama pada periode September hingga akhir Desember 2025.

Dalam proses itu, para korban disebut diminta membayar biaya administrasi sekitar Rp2 juta hingga Rp3 juta. Selain itu, mereka diwajibkan menyediakan lahan sekitar 400 meter persegi untuk pembangunan dapur SPPG MBG.

Tak hanya itu, para kiai juga menggandeng kontraktor untuk membangun fasilitas dapur. Namun, YH diduga meminta fee sekitar 20 persen dari nilai proyek pembangunan kepada pihak kontraktor.

Nilai Proyek

Nilai pembangunan dapur di tiap lokasi disebut bervariasi, mulai dari Rp800 juta hingga Rp1 miliar. Sementara fee yang diduga diminta YH dari setiap proyek mencapai sekitar Rp71 juta.

Baca Juga :

Keluar dari Jakarta, Ammar Zoni Resmi Jadi Penghuni Baru Lapas Nusakambangan!

“Sebagian besar pembangunan sudah mencapai sekitar 80 persen. Ada korban yang sudah mengeluarkan dana hingga Rp700 juta sampai Rp800 juta,” kata Afrendi.

Kecurigaan mulai muncul ketika pembangunan hampir selesai, namun YH disebut mulai sulit dihubungi hingga akhirnya menghilang. Pihak korban juga sempat mendatangi kantor Koperasi DSN di Cianjur, namun lokasi tersebut dinilai tidak meyakinkan dan YH tidak ditemukan.

Saat ini, tim hukum para korban masih mengumpulkan data dan bukti tambahan sebelum membawa kasus dugaan penipuan tersebut ke ranah hukum dan melaporkannya ke pihak kepolisian.* (red)

TERKAIT:

POPULER: